Pengaruh Konsentrasi Indole Butyric Acid dan Benzyl Amino Purine terhadap Pertumbuhan Eksplan Tunas Pisang Cavendish (Musa acuminata) Secara In Vitro

Adam Saepudin, Yaya Sunarya, Dhea Asri Firliana

Sari


Zat pengatur tumbuh dalam kultur jaringan merupakan komponen penting untuk menentukan arah pertumbuhan dan perkembangan eksplan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi IBA (Indole Butyric Acid) and BAP (Benzyl Amino Purine) serta interaksi antara keduanya terhadap pertumbuhan eksplan tunas pisang Cavendish. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi pada bulan Juli hingga November 2021. Percobaan ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri dari dua faktor, diulang sebanyak tiga kali. Faktor pertama adalah konsentrasi Indole Butyric Acid (IBA) yaitu 0 ppm, 0,5 ppm, dan 1 ppm, faktor kedua adalah konsentrasi Benzyl Amino Purine (BAP) yaitu 0 ppm, 2 ppm, dan 4 ppm. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam dan diuji lanjut dengan uji jarak berganda Duncan dengan taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara konsentrasi IBA dan BAP terhadap jumlah tunas, panjang tunas, jumlah akar, panjang akar dan jumlah daun. Konsentrasi terbaik untuk pertumbuhan eksplan tunas pisang Cavendish secara in vitro adalah IBA 0,5 ppm dan BAP 4 ppm.


Kata Kunci


Benzyl Amino Purine; Eksplan; Indole Butyric Acid; Pisang Cavendish

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Ali, G., F. Hadi, Z. Ali, M. Tariq, and M. A. Khan. (2007). Callus Induction And In Vitro Complete Plant Regeneration of Different Cultivars of Tobacco (Nicotiana tabacum L.) on Media of Different Hormonal Concentration. Biotechnology, 6(4), 561-566.

Budi, R. S. (2020). Uji Komposisi Zat Pengatur Tumbuh terhadap Pertumbuhan Eksplan Pisang Barangan (Musa paradisiaca L.) pada Media MS Secara In Vitro. Best Journal, 3(1), 101–111.

Demissie, A.G. (2013). Effect of Different Combinations of BAP (6-Benzyl Amino Purinee) and NAA (Napthalene Acetic Acid) on Multiple Shoot Proliferation of Plantain (Musa spp.) cv. Matoke from Meristem Derived Explant. Academia Journal of Biotechnology, 1(5), 071-080.

Ferdous, M. H., A. A. Masum Billah, H. Mehraj, T. Taufique, dan A. F. M. Jamal Uddin. (2015). BAP and IBA Pulsing for In Vitro Multiplication of Banana Cultivars Through Shoot-Tip Culture. Journal of Bioscience and Agriculture Research, 3(2), 87-95.

Fitramala, Efah, Eva Khaerunnisa, N.R. DJuita, H. Sunarso, dan Diah Ratnadewi. (2015). Kultur In Vitro Pisang (Musa paradisiaca L.) cv. Kepok Merah untuk Mikropropagasi Cepat. Menara Perkebunan, 84(2), 69-75.

George, D.E.F dan P. D. Sherrington. (1984). Plant propagation by tissue culture. England. Eastern Press.

Gurel, S., Ekrem G., dan Zeki K. (2000). Callus Development and Indirect Shoot Regeneration from Seedling Explants of Sugar Beet (Beta vulgaris L.) Cultured In Vitro. Turkish Journal of Botany, 25(1), 25-33.

Hutami, Sri. (2018). Ulasan Masalah Pencoklatan pada Kultur Jaringan. AgroBiogen, 4(2), 83-88.

Kementerian Pertanian. (2014). Outlook Komoditi Pisang. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian, Jakarta.

Khatun, Fahima., M. E. Hoque, Homayra Huq, Md. Adil, Kh. Ashraf Uz-Zaman, dan Mominul Haque Rabin. (2017). Effect of BAP and IBA In Vitro Regeneration Local of Banana Variety of Sabri. Biotechnology Journal International, 18(1), 1-10.

Kurnianingsih, R., Marfuah, dan I. Matondang. (2009). Pengaruh Pemberian BAP (6- Benzyl Amino Purine) pada Media Multiplikasi Tunas Anthurium hookerii Kunth. Enum. Secara In Vitro. Vis Vitalis, 2(2), 17-21.

Lestari, Endang G. (2011). Peranan Zat Pengatur Tumbuh dan Perbanyakan Tanaman melalui Kultur Jaringan. Jurnal AgroBiogen, 7(1), 63-68.

Mahfudza, E., Mukarlina, dan L. Riza. (2018). Perbanyakan Tunas Pisang Cavendish (Musa acuminata L.) Secara In Vitro dengan Penambahan Naphthalene Acetic Acid ( NAA ) dan Air Kelapa. Jurnal Protobiont, 7(1), 75-79.

Marlin, Mukhtasar, Hartal. (2008). Upaya Penyediaan Bibit Pisang Ambon Curup Unggulan Provinsi Bengkulu dengan Pembentukan Planlet Secara In Vitro. Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing 2008. 73p.

Maulida, D., L. Erfa, dan R. N. Sesanti. (2018). Multiplikasi Mata Tunas Pisang Cavendish In Vitro pada Berbagai Konsentrasi Benziladenin. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan, 18(1), 18.

Purwoko, S., D. Juniarti. (1998). Pengaruh Beberapa Perlakuan Pasca Panen dan Suhu Penyimpanan Terhadap Kualitas dan Daya Simpan Buah Pisang Cavendish (Musa (grup AAA, subgrup cavendishi)). Buletin Agronomi, 26(2), 19-28.

Pusat Kajian Hortikultura Tropika. (2012). Teknologi Sehat Budidaya Pisang: dari Benih sampai Pasca Panen. http://pkht. ipb.ac.id/wp-content/uploads/2016/02/buku -ajar-teknologi-sehat-pisang.pdf. diakses pada 22 Desember 2020.

Ramdani, Yani., E. Kurniati, I. Sukarsih, dan G. Gunawan. (2017). Teknik Pemberdayaan Keluarga Prasejahtera Melalui Optimalisasi Lahan Pekarangan dengan Penanaman Pisang Cavendish. Jurnal Penelitian dan Pengabdian, 2 (1), 22-29.

Rionaldi, Rijar. (2019). Pemberian BAP dan NAA terhadap Pertumbuhan Eksplan Pisang Barangan (Musa paradisiaca L.) Secara In Vitro. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Islam Riau.

Santoso, U. dan F. Nursandi. (2004). Kultur Jaringan Tanaman. Malang: UMM Pers.

Shahnawaz. A., A. Sharma, A. K. Singh, V. K. Wali dan P. Kumari. (2014). In Vitro Multiplication of Banana (Musa sp.) cv. Grand Naine. Afr J Biotechnol, 13(27), 2696- 2703.

Shinta, D. (2017). Pengaruh BAP dan Kinetin terhadap Pertumbuhan Tunas Pisang Barangan (Musa paradisiaca L.) Secara In Vitro. Bengkulu.

Sihotang, S. dan Riyanto. (2016). Stimulasi Tunas Pisang Barangan (Musa acuminata L.) secara In Vitro dengan Berbagai Konsentrasi IBA (Indole- 3-butyric acid) dan BA (Benzyladenin). BioLink, 3(1), 18-30.

Siregar, L. H., L. A. M. Siregar, dan L. A. P. Putri. (2013). Benzyl Amino Purine.- Asam Asetat Naftalena terhadap Pertumbuhan Akar Boesenbergia Flava secara In Vitro. Jurnal Online Agroteknologi, 1(3), 511-522.

Sukmadjadja, D., Ragapadmi Purnamaningsih, dan Tri P. Priyanto. (2013). Seleksi in vitro dan Pengujian Mutan Tanaman Pisang Ambon Kuning untuk Ketahanan terhadap Penyakit Layu Fusarium. Jurnal Agro Biogen, 9 (2).

Sulusi, P., Suyanti, dan Setyabudi, D.A. (2008). Teknologi Pasca Panen dan Teknik Pengolahan Buah Pisang. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian.

Syahid, S. F., dan E. Hadipoentyanti. (2017). Protokol Perbanyakan Benih Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) secara In Vitro. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat.

Utami, S.R. (2015). Multiplikasi Tunas Pisang Ambon Hijau pada Beberapa Konsentrasi BAP dan NAA. Skripsi. Universitas Bengkulu. Bengkulu.

Widiastoety, D. (2014). Pengaruh Auksin dan Sitokinin terhadap Pertumbuhan Planlet Anggrek Mokara. Jurnal Hortikultura, 24(3), 230 – 238.

Wulandari A. Sekar. dan Sabar S. Nasution, S. (2014). Pengaruh Bahan Sterilan terhadap Keberhasilan Inisiasi Eksplan Paulownia (Paulownia elongata SY Hu) secara In Vitro. Jurnal Silvikultur Tropika, 5(1),1-6.

Yadav, P.R. daan R. Tyagi. (2006). Biotechnology of Plant Tissue. Discovery Publishing House. New Delhi.: 246.

Yatim, Hertasning. (2016). Multiplikasi Pisang Raja Bulu (Musa paradisiaca L. AAB Group) pada Beberapa Konsentrasi Benzyl Amino Purinee (BAP) secara In Vitro. Jurnal Agroteknologi, 4(3), 1989-1995


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats