Tingkat Kesejahteraan Petani Tebu (Saccharum officinarum L.) di Desa Tempaling Kecamatan PamotanKabupaten Rembang

Era Tri Rahayu, Sri Wahyuningsih, Rossi Prabowo, Hilmi Arija Fachriyan

Sari


Tebu merupakan tanaman perdagangan sehingga perlu adanya pemindahan dari produsen ke konsumen. Petani tebu menjual hasil tebunya ke pabrik gula untuk diolah menjadi gula putih kemudian dapat dikonsumsi oleh konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status kemitraan petani tebu dengan pabrik gula, mengetahui pendapatan, dan untuk mengetahui tingkat kesejahteraan petani tebu. Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini metode deskriptif analisis. Metode sampel responden yang digunakan penelitian ini metode simple random sampling. Metode analisis yang digunakan yaitu metode deskriptif kuantitatif, analisis pendapatan dan GSR (God Service Ratio), indikator BKKBN, dan PPP (Pangsa Pengeluaran Pangan) untuk menentukan tingkat kesejahteraan petani. Hasil penelitian menunjukkan petani tebu tidak bermitra dengan pabrik gula dalam menjual hasil panennya. Pendapatan petani tebu sebesar Rp 26.569.000/ Ha/musim panen, dengan besar biaya produksi Rp 9.136.000/Ha/musim panen, pendapatan lebih besar dari total biaya produksi yang artinya menguntungkan bagi petani. Tingkat kesejahteraan petani tebu dalam aspek sosial tergolong KS I yang artinya sejahtera tahap 1, berdasarkan aspek sosial kurang sejahtera dimana hasil GSR (Good Service Ratio) > 1 yang berarti ekonomi rumah tangga kurang sejahtera, sedangkan dari pangsa pengeluaran pangan <60%, artinya tahan pangan.


Kata Kunci


kemitraan, analisis pendapatan, tingkat kesejahteraan, petani tebu

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Amalia, I.N., & Mahmudiono, T. (2017). Hubungan Pendapatan, Total Pengeluaran, Proporsi Pengeluaran Pangan dengan Status Ketahanan Rumah Tangga Petani Gurem (Studi di Desa Nogosari Kecamatan Rambupuji Kabupaten Jember)”. Amerta Nutrition 1.2 (2017): 143-152.

Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta. Jakarta.

BKKBN. (2011). Batasan dan Pengertian MDK. http://aplikasi.bkkbn.go.id/mdk/BatasanMDK.aspx (diakses pada tahun 2022).

Dampa, Y. (2003). Dampak Pengembangan Kakao Bagi Ekonomi Rumah Tangga Tani Arfak di Kabupaten Manokwari. Tesis S2 Program Pascasarjana UGM. Yogyakarta.

Erwinata, T. (2012). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Tebu Melakukan Kemitraan dengan Pabrik Gula Dalam Upaya Peningkatan Pendapatan. (Studi Kasus di Desa Kesamben, Kecamatan Ngoro, Kabupat (Doctoral dissertation, Universitas Brawijaya).

Ardiyanti, D. (2019). Dampak dana remitansi tenaga kerja Indonesia bagi kemandirian ekonomi keluarga dan perekonomian masyarakat Purworejo Ngunut Tulungagung dalam perspektif ekonomi Islam.

Lestari, M.D. (2017). Analisis Usahatani Tebu (Studi Kasus di Kecamatan Ngrantu Kabupaten Tulungagung). Jurnal Agribisnis, 13 (15), 48-57.

Nazir, M. (2003). Metode Penelitian. Jakarta. Ghalia Indonesia.

Naim, S., Sasongko, L. A., & Nurjayanti, E. D. (2015). Pengaruh kemitraan terhadap pendapatan usahatani tebu (studi kasus di Kecamatan Tayu Kabupaten Pati Provinsi Jawa Tengah). Mediagro, 11(1).

Pradipta, M. (2017). Tingkat Kesejahteraan Keluarga Petani Padi Di Desa Sumberagung, Kecamatan Moyudan, kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta. Skripsi. Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi: Universitas Negeri Yogyakarta.

Robinson, James. (2006). “Economic Development and Democracy”. Univercity Of Chicago. Amerika Serikat.

Santrock, John W. (2002). Life-span Development : Perkembangan Masa Hidup. Edisi 5 jilid 2, Jakarta : Erlangga

Sugiyono. (2001). Metode Penelitian, Bandung: CV Alfa Beta.

Yusria, Wa Ode. (2010). Keadaan Ekonomi Rumah tangga Petani Jambu Mete di Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara. AGRISEP 9(2).


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats