Optimasi Akumulasi Satuan Panas sebagai Kriteria Panen Terukur Pisang Barangan

Winarso Drajad Widodo, Ketty Suketi, Abdul Mujiib

Sari


Tingkat kematangan buah pada saat dipetik menentukan kualitas dan umur simpan buah pisang. Umur petik buah pisang dapat ditentukan dengan akumulasi satuan panas. Percobaan ini bertujuan memantapkan satuan panas sebagai kriteria panen terukur untuk pisang Barangan dengan memperbandingkan lima waktu antesis. Percobaan dilaksanakan di Kebun Parakan Salak, PT. Perkebunan Nusantara VIII, Sukabumi, Jawa Barat dan Laboratorium Pascapanen, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor pada bulan April hingga Juni 2018. Percobaan dilakukan dalam rancangan acak lengkap yang terdiri atas 5 perlakuan waktu tagging yaitu bulan April minggu II, minggu III, minggu IV, Mei minggu I, dan minggu II. Tagging diterapkan pada 5 tandan sebagai ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa waktu antesis memengaruhi kelunakan kulit buah, rasio padatan terlarut total (PTT) dan asam tertitrasi total (ATT), dan kandungan Vitamin C, namun tidak memengaruhi umur simpan, susut bobot, kelunakan daging buah, edible part, kandungan PTT dan kandungan ATT. Pisang Barangan dapat dipanen umur 78 hari setelah antesis pada akumulasi satuan panas 1203 – 1239 °C hari dan umur simpan mencapai 12 – 13 hari.

Kata Kunci


antesis, pascapanen, pisang Barangan, satuan panas, umur simpan

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Amin, M.N., M.M. Hossain, M.A. Rahim, & M.B. Uddin. (2015). Determination of optimum maturity stage of banana. Bangladesh J. Agric. Res. 40(2), 189-204.

Chillet, M., L.L. de Bellaire, O. Hubert, & D. Mbéguié-A-Mbéguié. (2008). Measurement of etthylene production during banana ripening. Fruits, 63, 253-254.

Dzomeku, B.M., J. Sarkordie-Addo, S.K. Darkey, R.K. Bam, & J. Wuemsche. (2016). Evaluating postharvest characteristics of Apantu (local false horn) plantain for indices determination. Int. J. Plant Physiol. Biochem. 8(1), 1-6.

Esguerra, E.B., & R. Rolle. (2018). Post-harvest management of banana for quality and safety assurance. Food and Agriculture Organization of The United Nations. IT, Rome.

Hailu M., T.S. Workneh, & D. Belew. (2013). Review on postharvest technology of banana fruit. Afr J Biotechnol. 12(7), 635-647.

Hasibuan E.P., & W.D. Widodo. (2015). Pengaruh aplikasi KmnO4 dengan media pembawa tanah liat terhadap umur simpan pisang mas (Musa Sp AA Group). Bul. Agrohort. 3, 387-394.

Hidayat T. (2018). Kualitas kematangan pascapanen pisang Mas Kirana pada waktu antesis yang berbeda [skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor (ID).

Kuntarsih S. (2012). Pedoman Penanganan Pascapanen Pisang. Direktorat Budidaya dan Pascapanen Buah Kementerian Pertanian, Jakarta (ID).

Larotonda, F.D.S., A.K. Genena, D. Dantela, H.M. Soares, J.B. Laurindo, R.F.P.M. Moreira, & S.R.S. Ferreira. (2008). Study of banana (Musa aaa cavendish cv Nanica) trigger ripening for small scale process. Braz. Arch. Biol. technol. 51(5), 1033-1047.

Mahajan, B.V.C., K. Tajender, M.I.S. Gill, H.S. Dhaliwal, B.S. Ghuman, & B.S. Chahil. (2010). Studies on optimization of ripening techniques for banana. J. Food Sci. Technol. 47(3), 315-319.

Nair, S., & Z. Singh Z. (2003). Pre-storage ethrel dip reduces chilling injury, enchances respiration rate ethylene production and improves fruit quality of Kensington mango. Food, Angriculture & Environtment 1(2): 93-97.

Pantastico, E.B. (1986). Fisiologi pasca panen, penanganan dan pemanfaatan buah-buahan dan sayur-sayuran tropika dan subtropika. Di dalam: Kamariyani, editor. Postharvest Physiology, Handling dan Utilization of Tropical and Sub-Tropical Fruits and Vegetables. UGM Press, Yogyakarta (ID).

Parthasarathi, T., G. Velu, & P. Jeyakumar. (2013). Impact of crop heat units on growth and development physiology of future crop production: a review. Journal of Crop Science and Technology, 2(1), 2319-3395.

Prabawati, S., Suyanti, & A.S. Dondy. (2011). Teknologi Pascapanen dan Pengolahan Buah Pisang. Balai Besar dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor (ID).

Prasetyo, M.W.H. (2017). Penentuan waktu panen pisang Mas Kirana berdasarkan satuan panas [skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor (ID).

Santosa E., W.D. Widodo, & Kholidi. (2010). The use of clay as potassium permanganate carrier to delay the ripenning of Raja Bulu banana. J.Hort. Indonesia. 1(2), 89-96.

Sugistiawati. (2013). Studi penggunaan oksidator etilen dalam penyimpanan pascapanen pisang Raja Bulu (Musa Sp. AAB Group) [skripsi]. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Sutowijoyo, D., & W.D. Widodo. (2013). Kriteria kematangan pascapanen pisang Raja Bulu dan pisang Kepok. Membangun Sistem baru Agribisnis Hortikultura Indonesia pada Era Pasar Global. Prosiding Seminar Ilmiah Perhimpunan Hortikultura Indonesia (PERHORTI); 9 Oktober 2013; Bogor, Indonesia Perhimpunan Hortikultura Indonesia (PERHORTI), 21-26

Wang, J.Y. (1960). A Critique of heat unit approach to plant response studies. Ecology, 41(4), 785-790.

Widodo, W.D., K. Suketi, & R. Rahardjo. (2019). Evaluasi kematangan pascapanen pisang Barangan untuk menentukan waktu panen terbaik berdasarkan akumulasi satuan panas. Bul. Agrohorti, 7(2), 162-171.

Widodo, W.D., K. Suketi, & M.E. Rahayu. (2015). Daya simpan dan kematangan pascapanen pisang Raja Bulu pada beberapa umur petik. Dukungan Teknologi dan hasil penelitian dalam membangun pertanian bio-industri buah tropika berkelanjutan. Seminar Nasional Buah Tropika Nusantara II. Bukittinggi. 23-25 September 2014.

Widodo, W.D., K. Suketi, & E. Yulyana. (2016). Kriteria kematangan pascapanen dan penentuan waktu panen dengan satuan panas pada pisang Mas Kirana (Musa Sp. AA Grup). Peningkatan Produksi Pangan dan Hortikultura yang Berdaya Saing Mendukung MEA. Prosiding Seminar Nasional Perhimpunan Hortikultura Indonesia (PERHORTI) dan Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI); 14 November 2016; Makassar, Indonesia. Ficus Press. 93-99.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats