Pengaruh Umur Semaian Bawang Merah Asal Biji terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Bawang Merah di Dataran Tinggi Lembang

Sulastiningsih NWH Sulastiningsih NWH, Rosliani R Rosliani R

Sari


Ketersediaan benih bawang merah (Allium ascalonicum L.) berperan penting dalam proses produksi, sehingga harga melambung akibat kelangkaan di pasar tidak terjadi. Penggunaan biji botani bawang merah/True Seed of Shallot (TSS) merupakan salah satu alternatif teknologi perbenihan bawang merah yang mulai dikembangkan oleh Badan Litbang Pertanian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan teknologi produksi TSS dengan metode biji ke biji untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing produksi. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Margahayu-Balitsa, Lembang (1.250 m dpl) pada bulan Februari hingga Desember 2017. Metodologi penelitian menggunakan rancangan acak kelompok dengan 4 ulangan dan 7 perlakuan. Perlakuan meliputi umbi yang divernalisasi (10֯C selama 4 minggu), transplan yang divernalisasi pada tingkatan umur semai tertentu (umur semai 4, 5, 6, dan 7 minggu), biji yang divernalisasi, serta transplan umur 6 minggu tanpa divernalisasi. Varietas yang digunakan yaitu Trisula. Penanaman dilakukan dengan menggunakan polibag dengan jumlah total tanaman per satuan percobaan sebanyak 30 tanaman. Pengamatan meliputi persentase daya tumbuh benih atau transplan, pertumbuhan vegetatif, dan produksi tanaman (kuantitas dan kualitas). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bawang merah yang berasal dari semaian umur 6 minggu kemudian divernalisasi memiliki diameter umbel, jumlah kuntum bunga, jumlah kapsul, jumlah biji, dan bobot biji tertinggi. Walaupun demikian, bawang merah berasal dari semaian umur 6 minggu tanpa vernalisasi tidak berbeda nyata dengan tanaman yang melalui proses vernalisasi.

Kata Kunci


Biji Botani, Bawang Merah, Benih, Vernalisasi

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Basuki, RS. (2009). Analisis Kelayakan Teknis dan Ekonomis Teknologi Budidaya Bawang Merah dengan Benih Biji Botani dan Benih Umbi Tradisional. J. Hort. 19(3), 5-8.

Copeland LO, & McDonald MB. (1995). Seed Science and Technology. Ed ke-3. New York: Chaman & Hall.

Currah L, & Proctor FJ. (1990). Onion in Tropical Region. Bulletin No 35. Natural Research Institute United Kingdom.

Hilman Y, Rosliani R., & Palupi, ER. (2014). Pengaruh Ketinggian Tempat terhadap Pembungaan, Produksi dan Mutu Benih Botani Bawang Merah (True Seed of Shallot). J. Hort. 24(2).

Palupi, ER, Rosliani, R, & Hilman, Y. (2015). Peningkatan Produksi dan Mutu Benih Botani Bawang Merah (True Seed of Shallot) Dengan Introduksi Serangga Penyerbuk. J. Hort. 25(1), 15-25.

Permadi AH, & Putrasamedja S. (1991). Penelitian pendahuluan variasi sifat-sifat bawang merah yang berasal dari biji. Bull. Penel. Hort. XX(4), 120-134.

Ridwan H, Sutapradja H, & Margono. (1989). Daya produksi dan harga pokok benih/biji bawang merah. Bul. Penel. Hort. XVII(4).

Rosliani R., ER Palupi & Y. Hilman. (2012). Penggunaan Benzylaminopurine (BA) dan boron

Jain, R., A.K. Shrivastava, S. Solomon, & R.L. Yadav. (2007). Low temperature stress-induced biochemical changes affect stubble bud sprouting in sugarcane (Saccharumspp. hybrid). Plant Growth Regul. 53: 17-23.

Jasmi, S. Endang, & I. Didik. (2013). Pengaruh vernalisasi umbi terhadap pertumbuhan, hasil, dan pembungaan bawang merah (Allium cepa L. Aggregatum Group) di dataran rendah. Ilmu Pertanian, 16(1), 42 – 57.

Wu, C., M. Wang, Y. Dong, & H. Meng. (2015). Growth, bolting and yield of garlic (Allium sativum L.) in response to clove chilling treatment. J. Scientia Horticulturae 194, 43–52.

Bajaj, K.L., G. Kaur, J. Singh, & S.P.S. Gill. (1980). Evaluation of some important varieties of onion (Allium cepa L.) Plant Foods. Hum. Nutr. 30, 117.

Tjitrosopoemo, G. (2005). Pengaruh Konsentrasi dan Lama Perendaman dalam Supernata Kultur Bacillus SP-2 DUCC-BR-KI.3 Terhadap Pertumbuhan Stek Horisontal Batang Jarak Pagar (Jatropha curcus L.). Jurnal Sains dan Mat. 17(3), 131-140.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats