Optimasi Teknik Sterilsasi dan Induksi Kalus Eksplan Daun Gloxinia speciosa secara In-Vitro Menggunakan BAP dan 2,4-D

Kundartiari Safitri, Tantri Swandari, Titin Setyorini

Sari


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik sterilisasi yang tepat pada tanaman Gloxinia sp, serta mengetahui perbandingan konsentrasi BAP (Benzyl Amino Purin) dan 2,4 D (2,4-Dichlorophenoxyacetic acid) yang tepat untuk induksi kalus dari eksplan daun Gloxinia sp. Penelitian ini dilakukan di Laboraturium Kultur Jaringan Instiper Yogyakarta Jl. Nangka II, Maguwoharjo,Yogyakarta pada bulan September 2020 sampai Januari 2021. Media dasar yang digunakan adalah media MS (Murashige and Skoog. Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap 1 berupa optimasi metode sterilisasi eksplan daun Gloxinia sp menggunakan natrium hipoklorit 10%, 0,2% dan 2%, alkohol 70%, fungisida 0,1g/50ml, PPM 0,2 ml. Tahap kedua berupa induksi kalus pada media MS dengan penambahan hormon BAP dan 2,4 D. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor, faktor yang pertama adalah penambahan hormon BAP dengan 4 aras yaitu (0 ppm, 0,50 ppm, 1,5 ppm, 2,5 ppm) dan faktor kedua penambahan 2,4 D dengan 4 aras yaitu (0 ppm, 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm), tiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Data hasil penelitian dengan parameter persentase keberhasilan teknik sterilisasi eksplan Gloxinia sp, persentase pencoklatan (browning) pada Eksplan daun Gloxinia sp dan persentase eksplan hidup dan tumbuh kalus dianalisis menggunakan aplikasi excel, sedangkan parameter tekstur dan warna kalus dianalisis menggunakan aplikasi color analysis. Hasil analisis menunjukan bahwa teknik sterilisasi yang tepat terdapat pada metode yang menggunakan bahan sterilan natrium hipoklorit 2% dan fungisida 0,1g dengan tingkat keberhasilan sebesar 68,8%. Perlakuan penambahan 2,4 D dengan konsentrasi 2 ppm pada media kultur menunjukan pembentukan kalus paling cepat yaitu 3 minggu setelah tanam.

Kata Kunci


Sterilisasi, Induksi kalus, Gloxinia sp, BAP (Benzyl Amino Purin), 2,4 D (2,4-Dichlorophenoxyacetic acid).

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Alfian Z. (2006). Merkuri: antara manfaat dan efek penggunaannya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Skripsi. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatera Utara, Medan.

Arpita S., Subroto, D. Pinaki B., & Bidyut B. (2010). Inhibition of polyphenol oxidase in banana, aple and mushroom by using different antibrowning agent under different condition. Int J. Chem. Sci., 8(5), S550-S558.

Amaliah, S. (2019). Optimasi Konsentrasi 2,4 D dan BAP terhadap induksi kalus tanaman sirih merah (Piper crocatum Ruiz and Pav) melalui kultur in vitro. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Pekanbaru.

Davies PJ. (2004). Plant hormones: biosynthesis, signal transduction, action. Kluwer Academic Publisher, Dordrecht.

Djojosumarto, P. (2004). Teknik aplikasi pestisida pertanian. Kanisius, Yogyakarta.

Afzal, L, S.M.A. Basra, N. Ahmad, & M. Farooq. (2005). Optimization of hormonal priming techniques for alleviation of salinity stress in wheat (Triticum aestivum L.). Cardeno de Pesquisa Ser. Bio., Santa Cruz do Sul. 17(1), 95-109.

George, E & Paul S. (2008). Plant propagation by tissue culture. England: Handbook and Directory of Commercial Laboratories. Inggris: Exegetics Limited.

Hambali, E., A. Suryani, Dadang, Hariyadi, H. Hanafie, I. K. Reksowardojo, M. Rivai, M. Ihsanur, P. Suryadarma, S. Tjitrosemito, T. H. Soerawidjaja, T. Prawitasari, T. Prakoso, & W. Purnama. (2006). Jarak pagar tanaman penghasil biodiesel. Penebar Swadaya. Jakarta.

Handoyowati, G. (2016). Ketahanan kultur kencur (Kaempferia galangal L.) secara in vitro pada konsentrasi sterilan dan jenis eksplan yang berbeda. Skripsi. Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian.

Iantcheva A, Vlahova M & Atanassov A. (2006). Somatic embryogenesis in genera Medicago: an overview. In: Mujib A & Samaj J (Eds): Somatic Embryogenesis. Germany: Springer-Verlag Berlin Hiedelberg.

Indah, P.N. & Dini, E. (2013). Induksi kalus daun nyamplung (Calophyllum inophyllum Linn.) pada beberapa kombinasi konsentrasi 6 Benzylaminopurine (BAP) dan 2,4-Dichlorophenoxyacetic Acid (2,4-D). Jurnal Sains dan Seni Pomits. 2(1), E1-E6.

Kristina NN. (2008). Multiplikasi tunas dan aklimatisasi pegagan (Centella asiatica) periode kultur lima tahun. Jurnal Littri. 14(1), 30:35.

Lawalata, I. J. (2011). Pemberian beberapa kombinasi ZPT terhadap regenerasi tanaman gloxinia (Siningia speciosa) dari eksplan batang dan daun secara in vitro. J.Exp. Life Sci. 1(2), 56-110.

Lestari. (2011). Peranan zat pengatur tumbuh dalam perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Jurnal Agrobiogen, 7(1), 63-68.

Mahadi I. (2012). Induksi kalus kenerak (Goniothalamus umbrosus) berdasarkan jenis eksplan menggunakan metode in vitro. Jurnal Agroteknologi Tropika, 1(1), 18:22.

Manuhara, Y.S.W. (2006). Pengembangan metode transformasi genetik tanaman untuk meningkatkan kesejahateraan hidup manusia. Makalah Seminar Nasional Biodiversitas. Biologi-FMIPA, UNAIR, Surabaya.

Mariskan & Sukmadjaja. (2003). Kultur jaringan abaka melalui kultur jaringan. Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor.

Palupi, A.D., Solichatun & S.D. Marlina. (2004). Pengaruh asam 2,4 D (Dichlorophenoxyacetic) dan BA (Benzin Adenin) terhadap kandungan minyak atsiri kalus daun nilam (Pogostemon cablin Benth). BioSMART, 6(2), 99-103.

Rahayu. B. Solichatun. & Anggarwulan. E. (2003). Pengaruh asam 2,4-Diklorofenoksiasetat (2,4-D) terhadap pembentukan dan pertumbuhan kalus serta kandungan flavonoid kultur kalus Acalypha indica L. Biofarmasi. Surakarta

Rantau, D.E., Artista, E, S & Tri, M, E. (2006). Perbanyakan cepat Gloxinia speciosa melalui kultur daun. Pusat Penelitian Bioteknologi-LIPI.

Rosyidah, M., Evie, R., & Yuni, S.R. (2014). Induksi kalus daun melati (Jasminum sambac) dengan penambahan berbagai konsentrasi Dichlorophenoxyacetic Acid (2,4-D) dan 6-Benzylamino Purin (BAP) pada media MS secara In Vitro. Jurnal Biologi. 3(3), 147-153.

Saraswati R. D. (2006). Pengaruh sinar ultraviolet dan fotoperioda terhadap pertumbuhan dan perkembangan kultur in vitro mawar mini (Rosa hybrid L.). Undergraduate These dari JBPTITBRI. Bandung: Sekolah Ilmu dan Teknologi hayati. ITB. Bandung.

Setiani, N, A. Fitri, N. & Dewi, A. (2018). Pengaruh desinfektan dan lama perendaman pada sterilisasi eksplan daun sukun (Artocarpus altilis (Parkinson ex. F.A Zorn) Fosberg). Journal of Tropical Biology, 6(3), 80-81.

Syafni. (2006). Induksi keragaman genetik gloxiniaspeciosa melalui radiasi sinar gamma. (Tesis). Sekolah Pascasarjana, IPB, Bogor.

Tarampak, T.C., Sulistiawati & Nirmala, R. (2019). Metode mengatasi browning pada eksplan ulin (Eusideroxylon zwageri) untuk inisasi regenerasi secara in vitro. Jurnal Agroekoteknologi Tropika Lembab. 1(2), 1006-107.

Wardani, D, P. Solichatun & Setyawan, A.D. (2004). Pertumbuhan dan produksi saponin kultur kalus Talinum paniculatum gaetn pada variasi penambahan asam 2,4 D dan Kinetin. Biofarmasi, 2(1), 35-43.

Yusnita. (2004). Kultur jaringan. Cara memperbanyak tanaman secara efisisen. Cetakan Ketiga. Agro Media Pustaka. Jakarta

Zaitlin, D. & Pierce, A.J. (2010). Nuclear DNA content in Sinningia (Gesneriaceae); intraspecific genome size variation and genome characterization in S. speciosa. Genome, 53, 10661082.

Zulkarnain. (2009). Kultur jaringan tanaman; solusi perbanyakan tanaman budidaya. Bumi Aksara, Jakarta.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats