[Pengelolaan Pemangkasan Tanaman Teh Menghasilkan untuk Meningkatkan Kuantitas dan Kualitas Pucuk Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze)] : Review

Intan Ratna Dewi Anjarsari

Sari


Pemangkasan pada tanaman teh menghasilkan merupakan upaya untuk merangsang pertumbuhan tunas baru dan menjaga agar bidang petik tetap rendah dan luas sehingga pemetikan dapat berlangsung secara efisien. Pada keadaan normal, pemangkasan dilakukan jika hasil pucuk mulai menurun, pertumbuhan pucuk burung meningkat dan tanaman sudah terlalu tinggi, sehingga sulit dilakukan pemetikan. Pemangkasan yang lazim dilakukan pada teh menghasilkan adalah jenis pangkasan ajir dan pangkasan bersih. Tinggi rendahnya pangkasan pada tanaman teh akan menentukan berat ringannya pangkasan. Ketinggian pangkasan dapat diatur sedemikian rupa pada kisaran 50-60 cm cm untuk menjaga agar tanaman mudah merecovery luka setelah pemangkasan. Penentuan kadar pati akar secara kuantitatif (laboratorium) dan kualitatif (tes iodin) dapat dilakukan untuk memastikan tanaman teh yang akan dipangkas dalam kondisi sehat. Hasil penelitian menunjukkan karbohidrat akar merupakan pasokan karbon penting untuk pertumbuhan kembali tanaman teh setelah dipangkas. Analisis pati akar baik secara kuantitatif dan kualitatif dapat dijadikan acuan untuk melaksanakan pemangkasan. Kadar pati akar sebesar 12% merupakan nilai yang optimal untuk memulai dilkasanakan pemangkasan pada teh. Proses pemulihan tanaman teh setelah dipangkas sangat diperngaruhi faktor genetik, proses metabolisme selama proses pemulihan setelah pemangkasan, nutrisi /hara yang cukup dalam hal ini cadangan pati akar yang memadai sehingga pada saat tunas tumbuh tanaman tidak mengalami cekaman sekalipun dipangkas bersih dimana tidak disisakan daun untuk bisa berfotosintesis.

Kata Kunci


tanaman teh, kuantitas pucuk teh, kualitas pucuk teh,

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Anjarsari, I. R. . (2020). Pengaruh jenis dan tinggi pemangkasan serta aplikasi sitokinin dan giberelin terhadap pertumbuhan, hasil dan kadar katekin teh (Camellia sinensis (L.) O.Kuntze). Padjadjaran University.

Baruah, P. (2006). The tea industry of Assam.pdf. EBH.

Effendi, D.S., M.Syakir, & M.Yusron, W. (2010). Budidaya dan pasca panen teh. Pusat penelitian dan pengembangan tanaman perkebunan. Badan Pengembangan dan Penelitian Pertanian. Kementrian Pertanian.

Halford, N. (2010). Photosynthate partitioning. In Plant Developmental Biology-Biotechnological Perspectives (pp. 67–82). Springer Link, Berlin; Heidelberg.

Jeyaramraja, P. R., Pius, P. K. & Kumar, R. (2002). Scheduling pruning based on root starch reserves. Newsletter of UPASI Tea Research Foundation, 12, 1–2.

Johan, M. (2005). Pengaruh tinggi pangkasan dan tinggi jendangan terhadap pertumbuhan dan hasil pucuk basah pada tanaman teh asal biji. Jurnal Penelitian Teh dan Kina, 8, 43–48).

K. Chesney, P. E. (2012). Shoot Pruning and Impact on Functional Equilibrium Between Shoots and Roots in Simultaneous Agroforestry Systems. Agroforestry for Biodiversity and Ecosystem Services - Science and Practice, 1987.

Kumar, R., Bisen, J. S., Singh, M., & Bera, B. (2015). Effect of pruning and skiffing on growth and productivity of darjeeling tea ( Camellia sinensis L .), 3(3), 28–34.

Manatar, J. E., Pontoh, J., & Runtuwene, M. J. (2012). Analysis of starch content in stalk palm sugar plant (Arenga pinnata). Jurnal Ilmiah Sains, 12, 89–92.

Mphangwe & NIK. (2012). Ung pruning: a review of practice. Tea Research Foundation of Central Africa (TRFCA) News, 18–23.

Mudau, F. N., Mudau, A. R., Nkomo, M., & Ngezimana, W. (2016). Variation in carbohydrate reserves and dry matter production of bush tea (Athrixia phylicoides) grown under different environmental conditions. Hort. Science, 51(12), 1537–1541. https://doi.org/10.21273/HORTSCI11197-16

Nyembezi, M., Irvine, K. M., Wonder, N., & Fhatuwani, N. M. (2013). Effect of pruning on carbohydrate dynamics of herbal and medicinal plant species: Prospects leading to research on the influence of pruning on productivity and biochemical composition of bush tea (Athrixia phylicoides D.C.). African Journal of Agricultural Research, 8(27), 3528–3533. https://doi.org/10.5897/ajar2013.7134

Panda, H. (2011). The complete book on cultivation and manufacture of tea. Asia Pacific Business Press Inc, New Delhi, India.

PPTK. (2006). Petunjuk kultur teknis teh. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan, Gambung, Bandung.

Saikia’, D. N., Sarma, J., & Das, R. (2011). Effect of mechanical pruning on bush frame and yield of tea (Camellia sinensis L.). Two and a Bud, 58, 123–126.

Saikia, G. K., & Baruah, S. (2013). Growth and yield of youg tea plants as affected by pruning and tipping. Agricultural Science Digest - A Research Journal, 33(4), 324.

Santoso, T. B. (2007). Pemangkasan.

Sukasman, Johan, E., & Mahmud, S. (1988). Penelitian Kandungan Pati dalam Akar dan Waktu Pemangkasan. Prosiding Seminar Pemangkasan Teh, 1–15.

Sutaryanto. (1989). Masalah peningkatan kualitas hasil dan volume produksi. Simposium Teh III, Surabaya, 91–98.

Tea Research Institute. (2013). Pruning of tea.

TRIT. (2004). Tea pruning and tipping.

Vriet, C., Smith, A. M., & Wang, T. (2014). Root starch reserves are necessary for vigorous re-growth following cutting back in Lotus Japonicus. PLOS ONE, 9(1).

Wijeratne, M. A, Premathunga, P. & Karunaratne, W. R. M. M. (2002). Variation of root starch reserves of tea and its impact on recovery after pruning. J. Plantation Crop., 30(1), 35–39.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats