Uji Antagonis Bacillus sp. dan Pseudomonas Berfluorescens Asal Rhizosfer Bambu, Rumput Gajah dan Putri Malu Untuk Menekan Bakteri Ralstonia solanacearum Secara In-Vitro

Defa Yulia Irfanti, Yusriadi Marsuni, Elly Liestiany

Sari


Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh R. solanacearum tergolong penyakit yang sulit dikendalikan maupun dimusnahkan karena mampu bertahan hidup di tanah cukup lama dengan penyebaran yang cepat melalui air, peralatan pertanian dan lainnya. Sehingga diperlukan cara-cara pengendalian yang ramah lingkungan dengan agens hayati berupa penggunaan antagonis yang berasal dari beberapa rhizosfer tanaman. Rhizosfer sangat banyak mengandung mikroorganisme yang berpotensi untuk menjadi agens antagonis dari pathogen tanaman. Tujuan penelitian untuk mengetahui bakteri Bacillus sp. dan  P. berfluorescens dari rhizosfer bambu, rumput gajah dan putri malu yang memiliki kemampuan dalam menghambat bakteri R. solanacearum. Metode yang dilakukan dengan mengambil sample isolat pathogen  dari tanaman tomat yang bergejala layu bakteri R. solanacearum, diambil dari lahan Kelompok Tani di Karang Anyar, sedangkan isolate agens antagonis diambil dari rhizosfer tanaman bambu, rumput gajah dan putri malu diambil di daerah Palam, Guntung Manggis, Banjarbaru. Rancangan penelitian menggunakan RAL dengan 7 (tujuh) perlakuan dan 4 (empat) ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan T1        (P. berfluorescens bamboo) dan T2 (Bacillus sp. Bamboo) berbeda nyata dalam menimbulkan zona hambat terhadap R. solanacearum sebesar 1.15 mm dan 0.64375 mm. Kesimpulan bahwa kemampuan Pseudomonas berfluorescens dan Bacillus sp. dari rhizosfer yang berbeda memiliki kemampuan menghambat yang tidak sama dengan zona hambat terlihat samar atau tipis.

Kata Kunci


Bacillus sp., R. solanacearum, Rhizosfer, Pseudomonas berfluorescens

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Butarbutar, R., Marwan, H., & Mulyati, S. (2018). Eksplorasi Bacillus spp. dari rizosfer tanaman karet (Hevea Brasilliensis) dan potensinya sebagai agens hayati jamur akar putih (Rigidoporus sp.). Jurnal Agroecotania, 1(2), 31-41.

Beneduzi, A., Amborsini, A & Passaglia, L. M. P. (2012). Plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR): Their potential as antagonists and biocontrol agents. Genetics and Molecular Biology, 35(4), 1044–1051.

Hersanti, Rupendi, R. T., Purnama, A., Hanudin, Marwoto, B. & Gunawan, O. S. (2009). Penapisan beberapa isolat Pseudomonas fluorescens, Bacillus subtilis dan Trichoderma harzianum yang bersifat antagonistik terhadap Ralstonia solanacearum pada tanaman kentang. Jurnal Agrikultura, 20(3), 198-2003.

Ilyas, S. (2001). Mikrobiologi Dasar. Diklat Kompilasi. Universitas Sumatera Utara Press. Medan. Dalam Walida, H.,Siregar, A. A. dan Prawanda, A. 2018. Isolasi bakteri dari rendaman akar bambu dan respon pemberiannya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman terung ungu (Solanum melongena L.). Jurnal Agroplasma (STIPER) Labuhanbatu, 5(1), 1-9.

Istiqomah & Kusumawati, D. E. (2018). Pemanfaatan Bacillus subtilis Dan Pseudomonas fluorescens dalam pengendalian hayati Ralstonia solanacearum penyebab penyakit layu bakteri pada tomat. Jurnal Agro, 5(1), 1–12.

Kloepper, J. W., Lifshitz, R. & Zablotowicz, R. M. 1989. Freeliving bacterial inocula for enhancing crop productivity. Trends in Biotechnol., 7(2), 39–43.

Nagorska, K., Bikowski, M. & Obuchowski, M. (2007). Multicelluler behaviour and production of wide variety of toxic substances support usage of Bacillus subtilis as powerful biocontrol agent. Acta Biochimica Polonica, 54, 495−508.

Nasrun, Christanti, Arwiyanto, T. & Ika, M. (2007). Karakteristik fisiologis Ralstonia solanacearum penyebab penyakit layu bakteri nilam. Jurnal Litri, 13(2), 43-48.

Nawangsih, A. A. (2006). Seleksi dan karakteristik bakteri biokontrol untuk mengendalikan penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum) pada tomat. Disertasi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Moore, T., Globa, L., Barbaree, J., Vodyanoy, V. & Sorokulova, I. (2013). Antagonistic activity of Bacillus bacteria against food-borne pathogens. Journal of Probbiotics & Health, 1(3), 110.

Purnawati, A., Sastrahidayat, I. R., Abadi, A. L. & Hadiastono, T. (2014). Endophytic bacteria as biocontrol agents of tomato bacterial wilt disease. The Journal of Tropical Life Science, 4(1), 33-36.

Prastika, E. Z. (2018). Pengaruh konsentrasi substrat dan lama waktu inkubasi terhadap aktivitas enzim protease yang diproduksi oleh Bacillus subtilis. Skripsi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Soesanto, L. (2008). Pengantar pengendalian hayati penyakit tanaman. In PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Sukmawati, S. (2013). Keragaman bakteri dari beberapa jenis rizosfer dan bahan organik serta efektifitasnya terhadap patogen penyebab penyakit layu pada kentang secara In Vitro. Tesis. Universitas Hasanuddin, Makassar.

Supriadi. (2011). Penyakit layu bakteri (Ralstonia solanacearum): Dampak, bioekologi dan peranan teknologi pengendaliannya. Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian, 4(4), 279-293.

Surjowardojo, P., Tri, E. S. & Vasco, B. (2016). Daya hambat dekok kulit apel manalagi (Malus sylvestris Mill) terhadap pertumbuhan Escherichia coli dan Streptococcus agalactiae penyebab mastitis pada sapi perah. Jurnal Ternak Tropika, 7(1), 11-21.

Suryadi, Y. (2009). Efektivitas Pseudomonas fluorescens terhadap penyakit layu bakteri (Ralstonia Solanacearum) pada tanaman kacang tanah. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian (BB-Biogen). Jurnal HPT Tropika., 9(2), 174-180.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats