[Air Cucian Beras sebagai Sumber Nutrisi Alternatif bagi Tanaman Perkebunan] : Review

Mira Ariyanti

Sari


Air cucian beras merupakan salah satu limbah rumah tangga yang kurang termanfaatkan sehingga sebagian besar terbuang percuma. Air cucian beras mengandung nutrisi berupa unsur hara makro dan mikro sehingga dapat dijadikan sebagai sumber nutrisi alternatif bagi tanaman.  Air cucian beras sebagai sumber nutrisi bagi tanaman dikategorikan sebagai pupuk organik.  Pemanfaatannya dapat berupa air dan pati beras dimana kandungan nutrisinya keduanya tidak jauh berbeda. Penelitian mengenai pengaruh air cucian beras dan pati beras telah dilakukan pada tanaman perkebunan diantaranya karet, nilam dan kelapa sawit. Hasil penelitian tersebut diantaranya pemberian 500 ml air cucian beras setiap 3 hari sekali memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan bibit karet (Hevea brasiliensis Muell.) klon GT 1 terutama pada komponen pertambahan tinggi batang dan pertambahan lilit batang, pemberian air cucian beras dengan konsentrasi 100% disiram 3 hari sekali memberikan hasil yang baik pada pertumbuhan lilit batang dan jumlah daun bibit kelapa sawit, pemberian 25 g pati beras + PHE (pupuk hayati Emas) 2,5 g pada media tanam subsoil menghasilkan pengaruh yang paling baik terhadap pertambahan tinggi, pertambahan jumlah daun, pertambahan cabang, luas daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman, dan bobot kering akar tanaman nilam. Hal ini membuka peluang untuk dilakukan penelitian serupa terutama untuk mengkaji pengaruh air cucian beras baik dalam bentuk air atau pati beras pada tanaman perkebunan lainnya.

Kata Kunci


air cucian beras, pati beras, tanaman perkebunan, pupuk organik

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Ariyanti, M., Suherman, C., Anjasari, I.R.D., & Sartika, D. (2017). Respon pertumbuhan bibit nilam Aceh (Pogostemon cablin benth.) Klon sidikalang pada media tanam subsoil dengan pemberian pati beras dan pupuk hayati. Jurnal Kultivasi 16 (3): 394 – 401.

Ariyanti, M. (2021). Kelapa sawit : Pengelolaan bahan organik dan air untuk mendukung ISPO. Unpad Press. 96 pp. Cetakan ke-1.

Ariyanti, M., Suherman, C., Rosniawaty, S, & Franscyscus, A. (2018). Pengaruh volume dan frekuensi pemberian air cucian beras terhadap pertumbuhan bibit tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell.) klon GT 1. Jurnal Ilmiah Pertanian Paspalum. 6 (2) : 114-122.

Badan Pusat Statistik. (2018). Kajian konsumsi bahan pokok tahun 2017. @ BPS RI.

Baning, C., Rahmata, H., & Supriatno. (2016). Pengaruh pemberian air cucian beras merah terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman lada (Piper nigrum L.). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Biologi 1 (1) : 1-9.

Purniawati, D. I., Sampurno & Armaini. (2015). Pemberian air kelapa muda dan air cucian beras pada bibit karet (Hevea brasiliensis) stum mata tidur. JOM Faperta, 7(2): 493–510.

Samahah, N. (2015). Pengolahan air leri menjadi sabun pembersih wajah yang alami dan ekonomis. Prosiding Seminar Nasional Kimia, ISBN: 978-602-0951-05-8, 26-27.

Wulandari, C., Muhartini, S., & Trisnowati S. (2011). Pengaruh air cucian beras merah dan beras putih terhadap pertumbuhan dan hasil selada (Lactuca sativa L.). Jurnal Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Wulandari, C., Muhartini, S., & Trisnowati S. (2012). Pengaruh air cucian beras merah dan beras putih terhadap pertumbuhan dan hasil selada (Lactuca sativa L.). Jurnal Vegetalika 1(2).

Zistalia, R. P. (2018). Pertumbuhan bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) yang diberi air cucian beras dengan konsentrasi dan interval waktu berbeda. Skripsi. Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats