Pengenalan dan Penyadartahuan Manfaat Intangible Hutan pada Masyarakat Dusun Rabakuan di Kesatuan Pengelolaan Hutan Sanggau Timur

Emi Roslinda, Deny Hardiansyah, Adi Siswoyo, Nikomedes Nantah, Ningsih Ningsih

Abstract


Masyarakat Dayak dan hutan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, namun dengan banyaknya alih fungsi lahan hutan untuk penggunaan lain, menyebabkan terjadinya pergeseran akan pentingnya hutan bagi kehidupan masyarakat. Tujuan pengabdian ini adalah menjelaskan tentang pentingnya hutan beserta fungsi dan manfaat intangible yang terkandung di dalamnya dalam menopang kehidupan sehari-hari. Mitra dalam kegiatan ini adalah masyarakat dusun Rabakuan yang terdiri dari pemuda, ibu-ibu, aparat desa, pemangku adat dan anggota kelompok tani hutan. Kegiatan dilaksanakan dengan melakukan sosialisasi manfaat intangible hutan dan pendekatan partisipatif menggunakan latihan penilaian manfaat penggunaan lahan yang ada dengan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, serta diskusi sebagai media komunikasi dua arah. Hasil pelaksanaan kegiatan mencatat masyarakat menyadari bahwa hutan memiliki banyak manfaat yang bersifat intangible bagi masyarakat sebagai sumber air, pengatur iklim mikro, merupakan warisan, menyediakan mata pencaharian dan kesejahteraan mereka baik secara langsung maupun tidak langsung dengan banyak tumbuhan dan hewan yang berharga dan penting bagi kehidupan.

Keywords


hutan, manfaat intangible, latihan penilaian

Full Text:

PDF

References


Iskandar, J dan Ginanjar A. 2002. Perubahan pengelolaan hutan oleh masyarakat Dayak akibat kegiatan HPH/HPHH di Kutai Barat Kalimantan Timur. Jurnal Sosiohumaniora 4(3): 209-223.

Lahajir. 2002. Ethnoekologi Perladangan Orang Dayak tujung Linggang. Yogyakarta: Galang Press.

Liswanti N, Indawan A, Sumardjo, Sheil D. 2004. Persepsi masyarakat Dayak Merap dan Punan tentang pentingnya hutan di lansekap hutan tropis di Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Jurnal Manajemen Hutan Tropika 10(2):1-13.

Munawaroh E, Saparita R, Purwanto Y. 2011. Ketergantungan masyarakat pada hasil hutan non kayu di Malinau Kalimantan Timur: Suatu Analisis Etnobotani dan Implikasinya Bagi Konservasi Hutan. Bogor: LIPI.

Muryanti dan Rokhiman. 2016. Bambi Ari’ sebagai wujud kearifan lokal masyarakat dayak dalam penanganan bencana kabut asap di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. 2016. Sosiologi Reflektif. 11(1):21-39.

Neil A, Golar, Hamzari. 2016. Analisis ketergantungan masyarakat terhadap hasil hutan bukan kayu pada Taman Nasional Lore Lindu. e-Jurnal Mitra Sains 4(1): 29-39.

Nurfatriani, F dan Nugroho IA. 2007. Manfaat hidrologis hutan di hulu DAS Citarum sebagai jasa lingkungan bernilai ekonomis. Info Sosial Ekonomi 7(3): 175-194.

Roslinda, E, Kartikawati, S.M., dan Rabudin. 2017. Economic valuation for tembawang ecosystem, in Sanggau District, West Kalimantan. Biodiversitas 18(4): 1506-1516.

Roslinda, E. 2019. Economic valuation of the Danau Sentarum National Park, West Kalimantan, Indonesia. Biodiversitas. 20(7): 1983-1989.

Roslinda, E, Munir, A, Haryono, A, dan Ansyari A. 2020. Nilai ekonomi Arboretum Sylva Universit4as Tanjungpura Pontianak. Jurnal Sylva Lestari 8(1): 42-53.

Samsoedin I, Wijaya A, Sukiman H. 2010. Konsep tata ruang dan pengelolaan lahan pada masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan 7(2): 145-168.

Vincent, I.I.J.W. 2009. Community development practice. In Philips R, Pittman RH (Editor). An Introduction to Community Development. Page: 58–74. New York (US): Routledge.

Yogi IBPP. 2018. Padi gunung pada masyarakat Dayak, sebuah budaya bercocok tanam penutur Austronesia (melalui pendekatan Etnoarkeologi). Forum Arkeologi 31(1): 45-52.