STRATEGI BUDIDAYA PADI UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN DI LAHAN TADAH HUJAN DALAM MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

Rina Kartikawati, E. Yulianingsih, S. Wahyuni, A. Wihardjaka

Sari


Salah satu isu strategis Kementerian Pertanian Indonesia adalah pemanfaatan lahan kering dan lahan tadah hujan untuk swasembada padi, jagung dan kedelai (pajale). Untuk memperoleh hasil yang optimal dari kedua lahan tersebut perlu diterapkan strategi dalam budidaya. Salah satunya melalui penerapan sistem budidaya yang berasal dari kearifan lokal masyarakat setempat. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peluang sistem budidaya di lahan tadah hujan dalam meningkatkan hasil padi dilakukan di Kebun Percobaan Jakenan-Balingtan pada tahun 2015/2016. Tujuh varietas padi unggul yang dilepas oleh Badan Litbang Pertanian, yaitu varietas Ciherang, Mekongga, Inpari 18, Inpari 13, Inpari 31, Inpari 32, Inpari 33 dan satu  varietas yang dirakit  oleh  Institut Pertanian Bogor,  yaitu  IPB 3S,  digunakan  dalam penelitian ini. Tanaman padi ditanam pada petak percobaan berukuran 6 m x 5 m, disusun secara acak kelompok sebanyak tiga ulangan. Budidaya padi dilakukan melalui dua sistem, yaitu gogo rancah (gora) dan walik jerami (wajer). Gabah Kering Giling (GKG) diperoleh dari ubinan dengan luasan 4,2 m x 2,4 m dengan kadar air 14%. Untuk mengetahui emisi CH4 dari   kedelapan   varietas  dilakukan   pengukuran   fluks  CH4    dengan   menggunakan   alat penangkap   gas   rumah   kaca   (GRK)   secara   otomatis   dan   dianalisa   dengan   Gas Chromatography  (GC)  yang  dilengkapi  oleh  Flame  Ionization  Detector  (FID).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa GKG pada sistem gora lebih tinggi dari sistem wajer. Hasil rata-rata GKG tertinggi dihasilkan oleh varietas Inpari 32 (6,2 t/ha), diikuti oleh varietas Inpari 31 (5,3 t/ha) dan Mekongga (5,1 t/ha). Selain menghasilkan GKG tertinggi, varietas Inpari 32 dan Inpari 31 juga menghasilkan emisi CH4 tertinggi masing-masing yaitu 339 dan 290 kg ha-1  th-1, diikuti oleh varietas Ciherang, yaitu 277 kg ha-1  th-1. Sedangkan varietas Mekongga menghasilkan emisi CH4 terendah, yaitu 195 kg ha-1 th-1. Optimalisasi hasil padi di lahan tadah hujan sangat bergantung pada kondisi iklim, sistem budidaya dan  pemilihanvarietas padi yang digunakan.


Kata Kunci


budidaya padi; lahan tadah hujan; emisi CH4; hasil gabah

Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.