Kualitas Fisik Daging Kambing Jawarandu pada Bobot Potong dan Lokasi Otot yang Berbeda di RPH Bustaman Kota Semarang

Sandi Bahar, C. M. Sri Lestari, Endang Purbowati

Sari


Penelitian bertujuan untuk mengkaji karakteristik daging kambing Jawarandu yang dipotong pada berbagai tingkat bobot potong dan lokasi otot berbeda. Materi penelitian berupa 20 ekor kambing Jawarandu yang diambil secara incidental sampling di RPH Bustaman Kota Semarang. Sampel daging diambil dari 2 lokasi otot, yaitu Bicep femoris (BF) dan Longissimus dorsi (LD). Penelitian dilakukan dengan desain eksperimental tersarang (lokasi otot tersarang pada bobot potong). Ada 4 kelompok bobot potong (BP), yaitu BP 1 rata-rata 6,16 ± 0,21 kg (CV = 3,47%), BP 2 rata-rata 11,00 ± 0,30 kg (CV = 2,76%), BP 3 rata-rata 16,14 ± 0,16 kg (CV = 1,02%), dan BP 4 rata-rata 20,89 ± 0,33 kg (CV = 1,58%). Parameter yang diamati adalah pH, susut masak dan daya ikat air daging. Data dianalisis dengan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan bobot potong dan lokasi otot tidak memberikan pengaruh nyata (P>0,05) terhadap pH dan susut masak daging, rata-rata pH dan susut masak daging hasil penelitian adalah 5,94 dan 30,17%. Daya ikat air daging pada semua bobot potong tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan rata-rata sebesar 29,36%, sedangkan daya ikat air daging pada otot LD (30,80%) lebih besar (P<0,05) daripada otot BF (27,91%). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perbedaan bobot potong dan lokasi otot tidak mempengaruhi pH dan susut masak daging. Perbedaan bobot potong juga tidak mempengaruhi daya ikat air daging, tetapi daging kambing Jawarandu pada otot LD memiliki daya ikat air yang lebih baik dari pada otot BF. 


Kata Kunci


Kambing Jawarandu, Bobot Potong, Bicep femoris, Longissimus dorsi, Kualitas Fisik Daging

Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats