Hubungan Kemiringan Lahan dengan Kadar Air Tanah dan Tampilan Tanaman Kelapa Sawit Menghasilkan

Bandi Hermawan, Mutiara Aisyah, Tri Dame W.O. Purba

Sari


Kemiringan lahan merupakan salah satu faktor pembatas kesesuaian lahan untuk pertumbuhan dan hasil tanaman. Untuk tanaman kelapa sawit, kemiringan lahan 30 persen merupakan batas kritis kesesuaian lahan karena memiliki intensitas faktor pembatas pertumbuhan yang berat. Penelitian bertujuan mengevaluasi hubungan antara kemiringan lahan dengan kadar air tanah, pertumbuhan dan hasil kelapa sawit. Lokasi penelitian terletak di Desa Talang Tengah 1, Kabupaten Bengkulu Tengah, sekitar 10 km sebelah utara Kota Bengkulu, berada pada ketinggian 100 m dari permukaan laut. Delapan tanaman kelapa sawit umur 15 tahun masing-masing dipilih secara purposif dari lahan dengan kemiringan 0, 8, 10, 15, 20 dan 30 persen. Kadar air tanah pada kedalaman 0-10 cm, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah tandan buah segar (TBS) per tanaman serta bobot TBS diukur pada akhir musim hujan tahun 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiringan lahan memiliki hubungan yang erat dan negatif dengan kadar air tanah dan tinggi tanaman, serta hubungan yang erat positif dengan jumlah dan bobot TBS. Kelapa sawit yang ditanam pada lahan yang lebih miring cenderung mempercepat pertambahan tinggi tanaman namun mengurangi jumlah dan bobot TBS dibandingkan lahan yang lebih datar. Kelembaban tanah pada jarak 2 m atau lebih dari batang kelapa sawit cenderung lebih rendah dibandingkan pada jarak 1 m dari pokok kelapa sawit.


Kata Kunci


kadar air tanah; kelapa sawit; kemiringan lahan; tandan buah segar

Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats