Pola Adopsi Inovasi Petani Padi Sawah: Sebuah Survei di Lima Kecamatan di Kabupaten Solok, Sumatera Barat

Osmet Osmet, Faidil Tanjung, Endry Martius

Sari


Walau pun petani sudah diperkenalkan pada seperangkat inovasi yang saling mendukung paling kurang sejak 10 tahun terakhir, para petani cenderung mengadopsi inovasi secara selektif: mengadopsi yang sesuai dan bisa dilaksanakan dan terbukti meningkatkan produksi dan/atau meminimumkan biaya usaha tani. Dengan demikian, bibit unggul adalah inovasi yang paling umum di adopsi petani, terutama bibit unggul yang memberikan hasil yang tinggi dan/atau pendapatan yang lebih baik (bibit unggul yang menghasilkan beras kualitas tinggi). Inovasi-inovasi budidaya, yang pada dasarnya merupakan upaya ‘fine tuning’ praktek budidaya padi (seperti pemilihan bibit yang lebih baik, pupuk seimbang dan sesuai kebutuhan, serta sistem tanam jarwo) diadopsi sejauh bisa dilaksanakan, peralatan tersedia, dan lingkungan menerima (misalnya tidak ada resistensi dari buruh tani). Inovasi-inovasi seperti PHT tidak sepenuhnya diadopsi petani mengingat tingginya risiko akibat serangan hama/penyakit. Gagasan-gagasan atau inovasi yang betapa pun bagusnya, misalnya dari segi kesehatan dan lingkungan, tetapi tidak mengurangi biaya atau secara langsung meningkatkan produksi kelihatannya tidak potensial untuk diadopsi petani. Inovasi kelembagaan seperti AUTP dan LKMA ternyata tidak terlalu dimanfaatkan petani walau pun secara hipotetis dibutuhkan petani.


Kata Kunci


Inovasi, Petani Padi Sawah, Solok

Teks Lengkap:

PDF

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats