Tampilan Vulva Sapi berahi yang Disinkronisasi Menggunakan Hormon PgF2α pada Paritas Berbeda

Zulaikhah Nur Rahmawati, D. Samsudewa, E. T. Setiatin

Sari


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh PGF2α terhadap tampilan vulva sapi perah berahi pada paritas yang berbeda. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi perah betina dengan berbagai paritas yaitu  P0 (4 ekor), P1 (5 ekor), P2 (1 ekor) dan P3 (1 ekor). Sinkronisasi berahi menggunakan PGF2α dengan  dosis 50 mg/ekor secara intramuskular (IM) dan pengamatan dilakukan 24 jam setelah di injeksi PGF2α setiap 6 jam sekali sampai kemunculan tanda berahi berakhir. Parameter yang diamati adalah tampilan vulva meliputi : perubahan warna, kebengkakan dan suhu vulva. Data dianalisis dengan Kruskal-Wallis dengan bantuan Statistical Package for the Social Science (SPSS) 16, bila berbeda nyata (P<0,05) dilanjutkan dengan uji Mann Whitney Test untuk mengetahui perbedaan antar paritas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sinkronisasi berahi menggunakan PGF2α pada sapi perah dengan paritas berbeda mampu memunculkan berahi secara serentak dalam waktu tiga hari dan terdapat pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap perubahan warna vulva pada pengamatan jam ke-96 dan kebengkakan vulva pada pengamatan jam ke-90, sedangkan pada suhu vulva sapi berahi yang disinkronisasi tidak terdapat pengaruh (P>0,05). Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sinkronisasi berahi menggunakan hormon PGF2α pada sapi perah yang berbeda paritas mampu memunculkan intensitas tampilan vulva berahi yang berbeda antar paritasnya. 


Kata Kunci


Sapi perah; paritas; hormon PGF2α; IM; tampilan berahi

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Abidin, Z, Y. S. Ondho dan B. Sutiyono. 2012. Penampilan birahi pada sapi Jawa berdasarkan poel 1, poel 2, dan poel 3. Anim. Agric. J. 1 (2) : 86 – 92.

Badan Pusat Statistik Jakarta Pusat. 2015. Populasi Sapi Perah menurut Provinsi 2012-2015. Badan Pusat Statistik, Jakarta.

Dewantiningrum, J. 2008. Perbedaan Pengaruh Clomiphine Citrate dan Letrozole terhadap Folikel, Endometrium dan Lendir Serviks Uji Klinik pada Wanita Infertil dengan Siklus Haid Tidak Teratur. Universitas Diponegoro, Semarang. (Tesis)

Handayani, U. F., M. Hartono dan Siswanto. 2014. Respon kecepatan timbulnya estrus dan lama estrus pada sapi Bali setelah dua kali pemberian Prostaglandin F2α (PGF2α). J. Ilmiah Peternakan Terpadu. 2 (1) : 33-39.

Haryani, R. 2002. Akselarasi Pemunculan dan Penyerentakan Estrus serta Keberhasilan Konsepsi Post-Partum Melalui Induksi Hormon Progestron, PMSG, dan Kombinasinya pada Sapi Bali‖. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor. (Tesis)

Kusumawati, E. D. dan H. Loendro. 2014. Inseminasi Buatan. Penerbit Angkasa, Bandung.

Purwasih, R., E. T. Setiatin and D. Samsudewa. 2014. The effect of Anredera cordifolia (Ten.) Steenis suplementation on uterine involution process evaluated by oestrus post partum behavior and ferning. JITAA. 39 (1):17-22.

Salisbury, G. W. dan N. L. vanDemark. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh R. Djanuar).

Solihati, N. 2005. Pengaruh Metode Pemberian PGF2α dalam Sinkronisai Estrus terhadap Angka Kebuntingan Sapi Perah Anestrus. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Bandung

Susilawati, T. 2011. Tingkat keberhasilan inseminasi buatan dengan kualitas dan deposisi semen yang berbeda pada sapi peranakan ongole. Jurnal Ternak Tropika. 12 (2): 15-24.

Tagama, T. S. 1995. Pengaruh hormon estrogen, progesteron dan prostaglandin F2α terhadap aktivitas berahi sapi PO dara. Jurnal Ilmiah Penelitian Ternak Grati. 4 (1) : 7 – 11.

Toelihere, M.R. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Penerbit Angkasa, Bandung


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


View My Stats