Respon Varietas Sawi (Brassica sinensis) terhadap Bahan Mikroorganisme Lokal (MOL): Bonggol Pisang, Limbah Buah dan Limbah Sayur

Dyah Roeswitawati, Surya Fitri Indri Sari, Henik Sukorini

Sari


Kebutuhan masyarakat akan tanaman sawi semakin meningkat untuk seiringdengan pertambahan penduduk. Sawi dikonsumsi baik daun maupun bunganya dalam bentuk olahan maupun dalam bentuk olahan. Kendala yang dihadapi petani belakangan ini adalah masalah pupuk yaitu sulit  mendapatkan serta mahal.harganya[3]. Mikroorganisme lokal adalah kelompok mikroorganisme yang mampu menguraikan limbah organik menjadi pupuk organik cairsehingga bisadimanfaatkan oleh tanaman, murah harganya serta tidak mengakibatkan polusi lingkungan[1].Mikroorganiame lokal dapat dimanfaatkan sebagai starter dalam pembuatan pupuk organik dalam bentuk padat maupun cair [2]. Bahan utama mikroorganisme lokal biasanya berasal dari karbo hidrat, selulose, glukose dan sumber mikroorganisme itu sendiri yang kemudian difermentasikan. Penelitian dilaksanakan untuk menguji respon varietas sawi terhadap bahan limbah mikroorganisme lokal (MOL). Merupakan percobaan faktorial yang disusun secara acak kelompok, faktor pertama adalah varietas sawi dan faktor kedua adalah macam bahan limbah organik. Hasil percobaan menunjukkan tidak terjadi interaksi antara varietas dan macam bahan limbah organik.Masing-masing varietas menujukkan respon berbeda terhadap perlakuan pemberian bahan limbah organik yang berbeda yang ditunjukkan oleh peubah pertumbuhan tanaman.


Kata Kunci


bonggol pisang; limbah organik; mikroorganisme lokal; varietas sawi

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Astuti, T. Y.S. Amir, G. Yelni, and Isyaturriyadhah. 2014. The Result of Biotechnology by Local Microorganism to Banana Peel on Rumen Fluid Characteristics ac Ruminant Feed. Journal of Advanced Agricultural Technologies. Vol 1 (1). 31 pages.

Aries Alfajri. 2015. Definition and Benefits Local Microorganism (MOL). http://agriculture90.blogspot.co.id. Diakses tanggal 19 Agustus 2017.

Badan Standart Nasional. 2014. Pupuk Organik, Pupuk Hayati dan Pembenah Tanah. Jakarta.

Baduru Lakshan Kumar and D.U.R. Gopal. 2015. Effective Role of Indigenous Microorganism for Sustainable Environment. 3 Biotech, 5 (6) : 867 – 876. Publish on line http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/article. 4 April 2015. Diakses tanggal 20 Juni 2017.

Budiyani, k, N, Sonari dan W, S, Sutari. 2016. Analisis Kualitas Larutan Mikroorganisme Lokal (Mol) Bonggol Pisang. E-Jurnal Agroteknologi Tropika, ISSN: 2301-6515, vol. 5, No.1, Januari 2016

Handayani, S, H., A, Yunus dan A, Susilowati. 2015. Uji Kualitas Pupuk Organik Cair Dari Berbagai Macam Mikro organisme Lokal (MOL). UNS. ISSN: 2339-1901 Vol.3, No.1, Hal 54-60 April 2015

Harizena, I N. D. 2012. Pengaruh Jenis Dan Dosis Mol Terhadap Kualitas Kompos Sampah Rumah Tangga. Skripsi. Program Studi Ilmu Tanah, Jurusan Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana.

Seni, Ida Ayu N. I Wayan Dana Atmaja. Ni Wayan Sri Sutari. 2013. Analisis Kualitas Larutan MOL (Mikro Organisme Lokal) Berbasis Daun Gamal(Gliricidia sepium). E-Jurnal Agroekoteknologi Tropika ISSN: 2301-6515 Vol. 2, No. 2, April 2013.

Setyaningsih, R. 2009. Kajian Pemanfaatan Pupuk Organik Cair Mikroorganisme Lokal (Mol) Dalam Priming, Umur Bibit Dan Peningkatan Daya Hasil Tanaman Padi (Oryza Sativa L.) (Uji Coba Penerapan System Of Rice Intensification”. Tesis. Jurusan Biologi UNS.

Suhastyo, A A. 2011. Studi Mikrobiologi dan Sifat Kimia Mikroorganisme Local yang Digunakan pada Budidaya Padi Metode SRI (System of Rice Intensification). Tesis. Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor

Widjajanto,D.W.,E.D.Purbayanti, Somarsono, CS.Utama. 2017. The Role of Lokal Microorganism from Rotten Fruit and Vegetable in Producing Liquid Organic Fertilizer. J. Applied Chem. Sci. (4) : 325-329. www.jacson line.org/journals/jacson. Diakses 25 Oktober 2017.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.