Potensi Sengon dalam Sistem Agroforestri Berdasar Karateristik Pohon Bagi Ketersediaan Cahaya dan Nutrisi

Zulfikar Affandi, Djoko Purnomo, Supriyono Supriyono

Sari


Ancaman terhadap keamanan pangan karena alih fungsi lahan, perlu upaya melalui budidaya dibawah tegakan pohon. Pertanaman sengon akhir-akhir ini digemari baik oleh masyarakat maupun pengelola hutan negara. Penelitian bertujun untuk: 1) mendeteksi karakter sengon berdasar potensi cahaya dan nutrisi 2) menganalisis potensi lahan dibawah tegakan sengon guna budidaya tanaman pangan. Penelitian menggunakan metode survey melalui berbagai pengukuran dan analisis laboratorium. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Lahan diantara tegakan sengon memiliki potensi sebagai lahan budidaya dalam sistem agroforestri. Cahaya lolos dari tajuk sengon umur 1,5 tahun, jarak 2 x 1,5 m (populasi 2850 pohon/ha) sebesar 15620 lux ( 27 % dari cahaya di luar tegakan). Seresah (daun dan ranting) luruh dari pohon setahun sebesar 2,8 kg, berdasar analisis kandungan N, P, dan K, berarti mengembalikan unsur tersebut pada tanah sekitar 1,7%, 0,05% dan 0,35%. Pemangkasan 1/3 tajuk bagian bawah sengon meningkatkan cahaya lolos 22%. Selain itu hasil pangkasan daun dan ranting sebesar 2,3 kg pohon-1 bermanfaat sebagai pupuk hijau. Analisis tanah dibawah tegakan sengon umur 1,5 tahun menunjukkan bahwa kriteria kesuburan termasuk rendah (N 0,25 %, P 7.15 ppm, K 0,28 me%, dan bahan organik/BO 2.54 %) berarti sumbangan pohon terhadap kesuburan belum tampak.


Kata Kunci


Sengon-Pohon-Cahaya-Seresah-Tanah

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Agus, Yusrial dan Sutono 2005. Penetapan Tekstur Tanah. Balai Penelitian Tanah, Bogor.

Amin N, I. Rachman, dan S. Ramlah. 2016. Jenis Agroforestri dan Orientasi Pemanfaatan Lahan di Desa Simoro Kecamatan Gumbasa Kabupaten Sigi. WARTA RIMBA 4(1): 97-104.

Budiastuti S, D. Purnomo. 2012. Agroforestri, Bentuk Pengelolaan Lahan Berwawasan Lingkungan. UNS Press.

Firmansyah MA 2011. Peraturan Tentang Pupuk, Klasifikasi Pupuk Alternatif Dan Peranan Pupuk Organik Dalam Peningkatan Produksi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Johannes N. 2017. Dinamika Produktivitas Padi, Jagung, dan Kedelai di Pulau Jawa, Indonesia. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan 17(1): 1-10.

Kadarwati FT. 2016. Evaluasi Kesuburan Tanah Untuk Pertanaman Tebu Di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Jurnal Littri 22(2): 53 –62.

Kementerian Pertanian. 2015. Outlook Komoditas Pertanian Tanaman Pangan: Padi. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian.

Kusumastuti A. 2014. Dinamika P Tersedia, pH, C-Organik dan Serapan P Nilam (Pogostemon cablin Benth.) pada Berbagai Aras Bahan Organik dan Fosfat di Ultisols. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan 14(3): 145-151.

Magdalena F, Sudiarso dan Sumarni T. 2013. Penggunaan Pupuk Kandang Dan Pupuk Hijau Crotalaria Juncea L. Untuk Mengurangi Penggunaan Pupuk Anorganik Pada Tanaman Jagung (Zea Mays L.). Jurnal Produksi Tanaman. 1(2): 2338-3976

Marpaung AE. 2014. Pemanfaatan Pupuk Organik Padat dan Pupuk Anorganik Terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mayz L). Jurnal Saintech, 6(4): 8-15

Mutua J, J. Muriuki, P. Gachie, M. Bourne, and J. Capis. 2014. Conservation Agriculture With Trees: Principles and Practice. World Agroforestry Centre (ICRAF).

Nariratih I, MMB Damanik, dan G. Sitanggang. 2013. Ketersediaan Nitrogen Pada Tiga Jenis Tanah Akibat Pemberian Tiga Bahan Organik Dan Serapannya Pada Tanaman Jagung. Jurnal Online Agroekoteknologi 1(3): 479-488

Nurhayani. 2015. Analisis Peranan Sub Sektor Tanaman Pangan Dalam Pembangunan Ekonomi Wilayah Kabupaten Batang Hari Periode 2005-2012. Jurnal Paradigma Ekonomika 10(01): 279-290.

Prawoto A. 2008. Hasil Kopi dan Siklus Hara Mineral dari Pola Tanam Kopi dengan beberapa Spesies Tanaman Kayu Industri. Pelita perkebunan 4(1): 1-21.

Purnomo D, MS Budiastuti, AT Sakya, and MI Cholid. 2017. Potensial of turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb) in agroforestry system based on silk tree (Albizia chinensis). Proceeding of International Conference on Agriculture and Environment (ICSAE) IV Surakarta, Indonesia.

Purnomo D, SM Sitompul, and MS Budiastuti. 2013. Solar radiation in agroforestry system. J. of Agric. Sci and Technology B2 3(8): 551-556

Sudomo A dan A. Widiyanto. 2014. Pengaruh Pemberian Pangkasan Sengon Terhadap Pertumbuhan Sengon dan Produksi Kacang Tanah dalam Sistem Agroforestry. Jurnal Penelitian Agroforestry (BPTA). 2: 1-18.

Sudomo A dan W. Handayani. 2013. Karakteristik Tanah Pada Empat Jenis Tegakan Penyusun Agroforestry Berbasis Kapulaga (Amomum Compactum Soland Ex Maton). Jurnal Penelitian Agroforestry 1(1): 1-11.

Suharti. 2008. Aplikasi Inokulum EM-4 dan Pengaruhnya Terhadap Pertumbuhan Bibit Sengon (Paraserianthes falcataria (L.). Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam 5(1): 55-65.

Uddin MB, SA Mukul, MA Khan, MA Hossain. 2009. Seedling response of three agroforestry tree species to phosphorous fertilizer application in Bangladesh: growth and nodulation capabilities. Journal of Forestry Research 20(1): 45−48. DOI 10.1007/s11676-009-0007-1

Usman. 2012. Teknik Penetapan Nitrogen Total Pada Contoh Tanah Secara Destilasi Titrimetri Dan Kolorimetri Menggunakan Autoanalyzer. Buletin Teknik Pertanian 17(1): 41-44.

Zakiyah R, UJ Siregar, dan NS Hartati. 2017. Karakterisasi Morfologi Sengon (Paraserianthes Falcataria L. Nielsen) Hasil Mutasi Radiasi Sinar Gamma. Jurnal Silvikultur Tropika 8(1): 41-47. ISSN: 2086-8227.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.