Pola Hujan Kabupaten Blora, Propinsi Jawa Tengah (Studi Kasus : Sub DAS Cemoro dan Modang)

Diah Auliyani, Tyas Mutiara Basuki, Rahardian Nugroho Adi, Edi Sulasmiko, Lathif Brahmantya

Sari


Sebagai bagian dari siklus hidrologi, curah hujan sangat penting untuk dipelajari karena sifatnya yang sangat variatif baik secara temporal maupun spasial. Pola curah hujan dapat digunakan sebagai dasar identifikasi perubahan iklim. Dalam lingkup pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS), variasi hujan akan mempengaruhi respon hidrologi suatu DAS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik hujan di Sub DAS Cemoro dan Modang, Kabupaten Blora Propinsi Jawa Tengah. Kedua wilayah tersebut merupakan Sub DAS dengan penutupan hutan jati. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hujan dari beberapa stasiun pengamatan curah hujan tahun 2001-2017, yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Dalam kurun waktu 17 tahun pengamatan, diketahui bahwa curah hujan tahunan antara Sub DAS Cemoro dan Modang hampir sama. Curah hujan bulanan menunjukkan peningkatan sejak Bulan September dan mulai menurun pada Bulan April. Bulan kering berlangsung selama 6 bulan, sedangkan bulan basah terjadi selama 4 bulan. Berdasarkan klasifikasi Oldeman, lokasi penelitian berada dalam zona iklim D3. Tren curah hujan tahunan di kedua Sub DAS mengalami penurunan sejak 2001 dan sedikit terjadi kenaikan pada 2013 hingga 2017. Untuk menjaga keseimbangan tata air, keberadaan hutan di lokasi penelitian perlu dipertahankan untuk mendukung kehidupan masyarakat di kawasan hilirnya.

Kata Kunci


Curah hujan, Cemoro, Modang, Iklim

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Adi, R. N., & Wijaya, W. W. (2016). Karakteristik Hujan Pulau Batam dan Pulau Bintan, Propinsi Riau. In Peran Pengelolaan DAS untuk Mendukung Ketahanan Air (pp. 76–88). Surakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS).

Agusta, A. R., Arman, Y., & Ihwan, A. (2013). Pemodelan curah hujan bulanan di kabupaten sintang menggunakan metode monte carlo dengan algoritma metropolis. POSITRON, III(2), 32–34.

Aldrian, E. (2001). Pembagian iklim Indonesia berdasarkan pola curah hujan dengan metoda “double correlation” (Climate categories in Indonesia based on rain pattern using “double correlation” method). Jurnal Sains Dan Teknologi Modifikasi Cuaca (Journal of Sciences and Technology of Weather Modification, 2(1), 11–18.

Aldrian, E., Sein, D., Jacob, D., Gates, L. D., & Podzun, R. (2005). Modelling Indonesian rainfall with a coupled regional model. Climate Dynamics, 25(1), 1–17. https://doi.org/10.1007/s00382-004-0483-0

Andreas, Sahid, & Darmadi. (1992). Studi karakteristik hujan tunggal di kawasan iklim muson tropik: Studi kasus sifat hujan di Yogyakarta. Agritech, 12(4), 22–30.

Anggraini, N., & Trisakti, B. (2011). Kajian dampak perubahan iklim terhadap kebakaran hutan dan deforestasi di Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal Pengeinderaan Jauh, 8, 11–20.

Basuki, T. M., Adi, R. N., & Sulasmiko, E. (2017). Hasil air hutan jati pada dua sub daerah aliran sungai dengan luas berbeda. Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, 1(1), 1–14.

Basuki, T. M., Wijaya, W. W., & Adi, R. N. (2017). Specific peak discharge of two catchments covered by teak forest with different area percentages. Forum Geografi, 31(1), 118–127. https://doi.org/https://doi.org/10.23917/forgeo.v31i1.3236

BBPPSLP. (2008). Dampak Perubahan Iklim Terhadap Sektor Pertanian, Serta Strategi Antisipasi Dan Teknologi Adaptasi. Pengembangan Inovasi Pertanian, 1(2), 138–140. Retrieved from http://pustaka.litbang.pertanian.go.id/publikasi/ip012086.pdf

Fadholi, A., & Supriatin, D. (2012). Sistem pola tanam di wilayah priangan berdasakan klasifikasi iklim Oldeman. Jurnal Pendidikan Geografi, 12(2), 61–70.

Santoso, A. B. (2016). Pengaruh perubahan iklim terhadap produksi tanaman pangan di Provinsi Maluku. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan, 35(1), 29–38.

Wredaningrum, I., & Sudibyakto. (2014). Analisis perubahan zona agro-klimat di Daerah Istimewa Yogyakarta ditinjau dari klasifikasi iklim menurut Oldeman, 1–10. Retrieved from I Wredaningrum, MS HA Sudibyakto - 2014 - lib.geo.ugm.ac.id


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.