PEMANFAATAN BLOTONG LIMBAH PABRIK GULA TEBU UNTUK PEMBUATAN PUPUK ORGANIK DAN REHABILITASI LAHAN KRITIS DI DESA WONOSOCO KABUPATEN KUDUS

Hadi Supriyo, Hendy Hendro

Sari


Wonosoco merupakan salah satu desa yang ada di Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus,
yang secara geografis termasuk dalam kawasan perbukitan Kendeng Utara, yang dicirikan
dengan kondisi morfologis bentang lahan yang berupa jajaran perbukitan rendah,
bergelombang dengan ketinggian sekitar 50-200 m dpl. Perbukitan Kendeng Utara
mempunyai jenis tanah berkapur, yaitu jenis tanah hasil pelapukan dari batuan kapur (batuan
sedimen). Tanah berkapur yang ada di desa Wonosoco berwarna kehitaman, miskin unsur
hara, sehingga dapat dikatakan tanahnya kurang subur. Adanya aktivitas manusia dalam
pengelolaan lahan di kawasan perbukitan Kendeng yang tidak memperhatikan kaidah
konservasi lahan, akan mengakibatkan terjadinya kerusakan lahan dan semakin hilangnya
lapisan tanah yang subur. Akibatnya banyak terjadi lahan yang kritis di wilayah desa
Wonosoco. Untuk mengembalikan dan meningkatkan produktivitas lahan lahan dibutuhkan
rehabilitasi dan input dari luar berupa pemberian unsur hara dari luar. Blotong merupakan
salah satu limbah dari Pabrik Gula yang berasal dari proses pembuatan gula. Limbah
berbentuk padat mengandung air, bentuknya menyerupai tanah, sebenarnya adalah serat tebu
yang bercampur kotoran yang dipisahkan dari nira. Komposisi blotong terdiri dari sabut, wax
dan fat kasar, protein kasar,gula, total abu, SiO2, CaO, P2O5 dan MgO. Komposisi ini
berbeda prosentasenya dari satu PG dengan PG lainnya, bergantung pada asal proses
pembuatan gula pasirnya Blotong berpotensi menjadi bahan baku pupuk organik, sebagai
penyubur atau untuk perbaikan struktur tanah terutama pada lahan kering karena blotong
banyak mengandung bahan penyubur tanah seperti Nitrogen, P2O5, CaO, humus dan lainlain.


Kata Kunci


lahan kritis; rehabilitasi lahan; blotong

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.