Introduksi Tanaman Koro Merah dan Koro Kapsul Sebagai Tanaman Tumpangsari Pada Usahatani Lahan Kering di Sub-DAS Serang Daerah Tangkapan Waduk Kedung Ombo

Jaka Suyana

Sari


Permasalahan yang dihadapi petani lahan kering di Lereng Utara Gunung Merbabu adalah degradasi lahan akibat erosi dan pendapatan usahatani masih rendah.  Kegiatan IbM Introduksi Tanaman Koro Merah (Kacang Merah) dan Koro Kapsul Pada Kelompok Tani Lahan Kering di Lereng Utara Gunung Merbabu ini merupakan kegiatan sosialisasi introduksi tanaman koro merah (kacang merah) dan koro kapsul ke dalam sistem usahatani yang telah ada (usahatani tembakau pada musim kemarau dan sayuran pada musim hujan). Tujuan introduksi tanaman koro merah dan koro kapsul adalah sebagai tanaman tumpangsari tembakau, dan juga kemungkinan pengembangannya sebagai tanaman substitusi/pengganti tembakau di kemudian hari. Mengingat sampai saat ini “tembakau” dianggap identik dengan “rokok” dan dipandang merugikan bagi kesehatan.  Namun selama ini belum dipikirkan jenis tanaman yang dapat menggantikan tanaman tembakau tersebut. Tanaman koro merah dan koro kapsul disamping toleran terhadap kekeringan (dapat tumbuh baik pada musim kemarau), juga mempunyai nilai ekonomi cukup baik. Oleh karena itu akan diintroduksikan sebagai tanaman tumpangsari dengan tembakau dan monokultur. Kelompok Tani yang  dipilih sebagai mitra yaitu Kelompok Tani Ngudi Makmur (Desa Ngargoloka, Kec. Ampel, Kab. Boyolali) dan Kelompok Tani Sumber Rejeki (Desa Candisari, Kec. Ampel, Kab.  Boyolali). Khalayak sasaran meliputi seluruh anggota dari kelompok tani Ngudi Makmur yang jumlahnya 38 petani dan kelompok tani Sumber Rejeki yang jumlahnya 30 petani, termasuk juga aparat desa. Hasil dari kegiatan IbM ini menunjukan bahwa introduksi tanaman koro merah cukup berhasil dengan produksi berkisar 167-520 kg/ha, sistem tumpangsari yang dikembangkan petani meliputi : tembakau+koro merah, tembakau+koro merah+cabe, tembakau+koro merah+wortel, cabe+koro merah+bawang daun. Nilai gizi kandungan : (a) lemak pada biji koro kapsul (2,28%) lebih tinggi dibandingkan biji koro merah (1,56%); (b) protein biji koro kapsul (23,39%) lebih tinggi dari biji koro merah (14,26%); serta (c) karbohidrat pada biji koro merah (69,42%) lebih tinggi dari biji koro kapsul (56,57%). Target dari semua kegiatan ini (penyuluhan, pemberian benih, serta pendampingan di lapangan dan pemasaran hasil) diharapkan dapat menyadarkan petani untuk ikut berpartisipasi dalam introduksi tanaman koro merah dan koro kapsul pada sistem usahataninya.

Kata Kunci


lahan kering; tembakau; koro merah; koro kapsul

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Direktur Waduk, Sungai dan Danau, Departemen Pekerjaan Umum. 2008. Pengelolaan Air Wduk Terlantar, Waduk Mengancam. http://64.203.71.11/kompas-cetak/2008/01/07/ilpeng/4143880.htm.

Suyana. 2003. Penerapan Teknologi Konservasi Hedgerows Untuk Menciptakan Sistem Usahatani Lahan Kering Berkelanjutan. Pengantar Falsafah Sains (PPS702), Program Pascasarjana/S3, IPB. Posted 25 October, 2003.

Suyana, J. dan E. S. Muliawati. 2012. Perencanaan Sistem Petanian Konservasi Pada Sub-DAS Serang Daerah Tangkapan Waduk Kedung Ombo. Laporan Hasil Penelitian Hibah Bersaing Dengan Perguruan Tinggi Tinggi. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.